Dalam rangka mencari desainer muda yang terampil dalam industri desain interior di Vietnam, ajang kompetisi The Hoa Mai Furniture Design Competition 2022 hadir kembali, diadakan oleh The Handicraft and Wood Industry Association (HAWA) dan American Hardwood Export Council (AHEC). Memasuki tahun ke 19, sebanyak 268 kontestan mengikuti kompetisi ini, semua desain furnitur yang diikutsertakan terbuat dari American red oak yang memiliki keindahan, kekuatan, dan workability.

Melalui penilaian juri, HAWA dan AHEC memilih 8 pemenang dengan kualitas desain interior yang berhasil menciptakan sebuah karya dengan masing-masing keunikannya, berikut nama pemenang dengan hasil produk desain interiornya. 





Eastern Sofa - Vu Dinh Ngiem

Desainer muda Vu Dihn Ngiem mengambil inspirasi dari traditional Asian pagodas dalam membuat Easten Sofa yang berhasil membawanya ke juara pertama dalam kompetisi ini.

Keindahan desain sofa ini menekankan 3 struktur mulai dari bingkai kayu, leather sling, dan bantalan busa yang nyaman. Rangkaian kayu pada furnitur menjukkan warna yang terang dari penggunaan American red oak.




Mantis Chair - Tran Thanh Huyen

Berbeda dari produk lainnya, Mantis Chair berfungsi sebagai kursi goyang berbentuk binatang mantis dan cocok digunakan anak kecil. Bantalan kursi secara teliti dirajut dengan teknik tradisional Vietnam yang dilapisi warna cokelat. Ingin mengangkat rasa nostalgia melaui furnitur ini, karya dari desainer furnitur Tran Thanh Huyen terpilih menjadi juara dua.




Sevania - Vu Phan Hoai Nhi

Menjadi pemenang ketiga, desainer interior  Vu Phan Hoai Nhi menciptakan sebuah kabinet yang bernama Sevania. Kental dengan budaya Vietnam, kabinet ini menggunakan material tradisional Sedge yang di aplikasikan pada pintu gesernya.

Dengan kombinasi dari keseluruhan desain terbuat dari kayu American red oak, Sevania memberikan kesan hangat dan mewah setiap penaruhannya dalam ruangan.




20.22 Lights - Truong Kha Tu

Mengaplikasikan American red oak ke dalam sebuah lampu gantung menjadi ide dari Truang Kha Tu dalam memenangkan Honorable prize winner kategori enviromental. Lampu 20.22 menggambarkan seekor burung yang terbang ke langit ke dalam desain pencahayaan. Keterangan lampu tidak hanya menerangi sayap namun membantu menonjolkan serat kayu nan indah.




Nguyen Thanh Nam - Nang Bench

Menang dalam honorable prize winner (functionality), desainer furnitur Ngyuen Thanh Nam memperkenalkan Nang Bench yang memiliki arti sunshine bench in Vietnam. Kursi minimalis ini memiliki bentuk menyerupai jembatan Huc di Hanoi dengan balutan warna merah menjadi simbol kebahagiaan dan kesehatan dalam tradisi feng shui. Pengunaan American red oak membantu melengkapi desain furnitur ini karena memaksimalkan kedalaman warna yang diinginkannya dan dia juga menambah ukiran berbentuk matahari di kaki kursi tersebut.




S.E.N Chair - Phan Van Tin

Phan Van Tin, desainer asal Vietnam mengambil inspirasi dari bunga teratai atau sen yaitu simbol dari bunga nasional Vietnam, dikreasikan menjadi sebuah kursi santai material kayu American red oak. Kursi ini memiliki bentuk lekukan kelopak bunga teratai dengan kaki kursi yang memancar ke arah berbeda. Keunikan S.E.N chair mampu meraih penghargaan kategori Honorable prize winner kategori (aesthetic & uniqment).






Horse Curve - Ngo Minh Luat

Produk ini memilki aksen kuat di keseluruhan desainnya, seperti namanya Horse Curve terinspirasi oleh seekor kuda terpilih menjadi pemenang Honorable prize winner (technique). Detail desain yang mengalir terlihat pada lekukan kursi yang saling terhubung dari sandaran tangga ke kaki depan kursi dan dilengkapi dengan logam diujung kakinya.




Ngai Chair - Luu Xuan Quynh

Memillih konsep dan desain yang terinspirasi dari kerajaan dinasti Ming, Lu Xuan Quyh sangat senang mengerjakan kursi ini menggunakan kayu American red oak yang mudah lentur.

Sebagai pemenenang honorable prize winner (marketability),  Ngai Chair memiliki highlight yaitu kaki kursi bertekuk dan dihubungkan ke bagian belakang kursi yang dilapisi minyak Rubio Monocoat di setiap struktur kayunya.







Sumber foto: AHEC
Teks oleh: Nadia Dian Zahrani