Perjalanan mengumandangkan furnitur lokal ke pasar global bagaikan perjuangan yang tiada habisnya. Tak hanya perlu merepresentasikan jati diri yang unik, namun juga musti bersaing secara kompetitif di antara kalangan karya modern yang diminati secara global.


Karina cheung sebagai penerus legasi bisnis keluarganya yang dikenal dengan nama brand BIKA, berbagi cerita bagaimana furnitur lokal ini menjunjung produk berkualitas tinggi sekaligus indah. Sejak 10 tahun lalu mengambil alih dari orang tuanya, Karina mengutarakan keinginan untuk mengembangkan desain furnitur yang terlepas dari pengaruh Amerika maupun Eropa serta lebih mengedepankan identitas negara Indonesia.





Tristan Credenza


Seringkali identitas tersebut diartikan dengan penyuntikan elemen batik yang secara umum terkenal di kalangan publik sebagai heritage milik Indonesia. But, we can do more!


“I want to go beyond that and create a new Indonesian design language. Indonesia is more than just batik – we are global citizens and I want to communicate design which reflect how humans live today. That is also our design philosophy – we want long-lasting designs which stand the test of time, as we want our furniture to last for generations. Design goes beyond how it looks, it also reflects how it is made; it must be beautifully made and made to last” - Karina Cheung

Jika dahulu kala motif batik secara gamblang dihadirkan sebagai finishing sofa, kini desain masa kini telah banyak berkembang. Contohnya saja Opal Chair yang didesain oleh Eugenio Hendro untuk BIKA. Inspirasi desain kursi ini justru datang dari tusuk rambut tradisional atau konde yang dipadukan dengan kain tenun demi melapisi dudukannya.


Opal Chair


Baca juga, 5 Furnitur Karya Desainer Asia yang Berkonsep Unik


Demi mempertahankan visinya, maka diperlukan material furnitur yang tak lekang hadapi waktu agar memastikan desain furnitur yang diciptakan timeless sekaligus elegan. Pada mulanya, BIKA menggunakan kayu jati dan mahoni lokal dalam proses produksi. Namun menghadapi keterbatasan akibat karakteristik kayu yang memiliki pola serat yang terbatas.




Tan Side Table


Inilah yang mengantarkan Bika untuk menggunakan kayu berasal dari Eropa, Amerika Utara, dan lokal namun sebagian besar furnitur tersebut menggunakan american hardwoods. Alasan utamanya adalah memiliki durabilitas yang bagus serta mempunyai banyak variasi pola serat kayu yang semakin meningkatkan kualitas desain dan bentuk furnitur. 


Bento Side Table terbuat dari American Walnut


Detail kayu pada Bento Side Table


Baca juga, 4 Ide Terbaik Desainer Muda dalam Mengolah American Red Oak


American hardwoods ini sendiri merupakan material utama yang dipromosikan American Hardwood Export Council (AHEC) dalam hal penggunaan kayu di dunia internasional. AHEC dikenal sebagai asosiasi terkemuka bagi industri hardwood asal Amerika sekaligus merepresentasikan para perusahaan eksporter kayu. Lebih dari 25 tahun lamanya, asosiasi ini turut membangun lingkungan kreatif bagi brand pengguna American Hardwood serta berbagi informasi teknis bagi manufaktur, specifier, serta desainer di beragam belahan dunia. 



Sumber Foto: BIKA / AHEC