Pada umumnya, bangunan tinggi atau perkantoran terkenal dengan penggunaan material kaca, baja, besi, atau material non-natural lainnya yang sering menghabiskan banyak energi yang tidak dapat diperbaharukan. Maka dari itu, saat dapat menemukan sebuah gedung perkantoran yang diselimuti oleh kisi-kisi bermaterialkan kayu dan mengedepakan konsep sustainability, ini menjadi sebuah pemandangan yang luar biasa. Berlokasi di London, The Black & White Building adalah gedung kantor tertinggi di pusat kota yang menggunakan material kayu.







Gedung ini ingin menjadikan setiap penggunanya merasakan bahwa gedung ini adalah rumah kedua mereka karena nyaman dan well-designed. Waugh Thistleton Architects (WTA) berkolaborasi dengan biro desain Daytrip Studio yang menciptakan gedung ini sebagai sebuah contoh atau visi tentang tampilan working space di masa depan.




Visi akan masa depannya tak hanya melihat dari perspektif desain dan arsitektural saja, namun pola bekerja dari sebuah perusahaan atau individual. Bangunan ini adalah work space pertama yang dibangun dari tanah milik TOG setelah hampir 20 tahun retrofitting. TOG telah dikenal sebagai penyedia working space terkemuka yang telah beroperasi lebih dari 50 gedung di London, Leeds, Bristol, Berlin, Hamburg dan Frankfurt.

Portofolio working space TOG sekarang berfungsi lebih dari 17.000 orang, termasuk keduanya menikmati keanggotaan multi-ruang kerja yang fleksibel dan penyewaan klien perusahaan melengkapi kantor dan gedung.




Jika melihat dari kacamata arsitektural, gedung ini sangat efektif karena didukung oleh 100% sumber energi terbarukan serta 55% dari karbon yang terkandung dalam bangunan diserap dalam struktur kayu. Merangkul proses konstruksi yang inovatif dan bahan yang berkelanjutan, para arsitek dan desainer telah secara signifikan mengurangi jejak karbon dibandingkan dengan struktur beton yang setara, yaitu 37% lebih sedikit atau menghemat 1.083,7 ton karbon dioksida. Dengan fokus pada kesehatan, gedung perkantoran ini juga menawarkan studio yoga, rooftop, dan berbagai lingkungan kerja kreatif.




Bangunan kayu massal bertingkat tujuh ini ingin menunjukkan bahwa kayu bukan hanya sebagai material alternatif yang layak untuk menggantikan beton dan baja konvensional yang biasanya digunakan untuk membangun kantor. Namun para arsitek dan desainer pun ingin menyatakan bahwa berdasarkan kinerja dan konsep sustainability, kayu adalah pilihan yang baik dan lebih digemari.


Dari total volume 1.330 meter kubik, WTA menggunakan kayu sebagai struktur inti yang inovatif. Untuk ini, sebanyak 227 pohon Beech dan 1.547 pohon Spruce dipanen dari hutan lestari di seluruh Jerman dan Austria. Di dalam lempengan kayu laminasi silang dipasangkan bingkai kayu veneer laminasi beech, sedangkan tulipwood dari Amerika Utara dapat ditemukan di fasad bangunan.




WTA membuat model komputer parametrik bangunan yang dapat memperhitungkan jumlah dan skema cahaya yang masuk ke dalam bangunan. Dengan menggunakan sistem ini, cahaya matahari bisa dikurangi namun di sisi lain dapat dimanfaatkan sebagai estetika dan sumber energi. WTA mengorientasikan bayangan matahari di barat dan utara menghadap secara vertikal dan di sisi selatan menghadap secara horizontal. Secara keseluruhan, bangunan ini memiliki sekitar enam tipe shading yang berbeda di seluruh gedung berkat kisi-kisi kayu tersebut.




Saat ini, kayu sejenis seperti Ash sedang dimodifikasi secara termal dan banyak digunakan secara eksternal untuk decking, cladding, dan jendela, namun tidak dengan kayu tulip. Pohon Tulipwood tumbuh secara eksklusif di Amerika Utara dan tersebar luas di sebagian besar Amerika Serikat bagian timur.






Dalam pembangunan gedung ini, AHEC (American Hardwood Export Council) memiliki peranan yang besar yaitu sebagai penasehat teknis untuk sang arsitek. Melalui data dan penelitian ekstensif, AHEC telah menyimpulkan bahwa kayu tulip memiliki sifat kekuatan yang relatif besar beratnya dan bekerja dengan baik secara eksternal setelah menjalani termal modifikasi. AHEC pun merekomendasikan penggunaan kayu yang dimodifikasi secara termal untuk fasad bangunan




Dibangun dari kayu tulip yang dimodifikasi secara termal dan telah melalui fire testing, kisi-kisi di bangunan ini mengurangi konsumsi energi bangunan secara besar-besaran dengan melindungi zona interior dari penguatan matahari. WTA juga dapat meminimalisir jumlah lapisan surya yang tidak dapat didaur ulang diperlukan untuk melindungi jendela pada akhirnya mengurangi TPA.




Dan yang menariknya lagi adalah kisi-kisi kayu ini memiliki hasil akhir halus berkualitas tinggi yang tidak memerlukan pengamplasan, perawatan, atau perlu diservis. Untuk jangka panjangnya, kisi-kisi ini dapat dibongkar, dilepas, diganti dengan yang baru, dan yang lama dapat digunakan kembali di akhir masa pakai skema. Dengan jenis kayu ini, Anda dapat membuat mesin dan memprofilnya setelah Anda merawatnya. Ini adalah keuntungan besar karena Anda dapat memotong bagian-bagiannya secara akurat. Seiring waktu, kisi-kisi ini juga akan berwarna lebih terang dan terlihat estetis.


Sumber foto: Jake Curtis, AHEC (American Hardwood Export Council)